Pernikahan dan Perceraian

oleh Bayu Sembada

Kenapa perceraian mudah terjadi di jaman sekarang?

Pertanyaan ini mulai muncul dan semakin kuat penulis tanyakan seiring dengan kejadian yang penulis alami sendiri maupun oleh teman, sahabat maupun keluarga. Kenapa perceraian mudah terjadi? Apakah dikarenakan perkembangan jaman? Apakah dikarenakan semakin pesatnya teknologi dan cepatnya informasi berpindah antar sesama manusia? Sudah tidak adanya perbedaan gender? Wanita dan Pria sama?

Hal itu semua mengakibatkan tingginya tingkat tuntutan hidup di dunia. Sehingga kitapun diminta untuk semakin inovatif dalam bekerja, semakin giat, semakin cepat. Pria dan wanita role-nya semakin tidak dapat dibedakan, sudah semakin sama. Kita menjadi terlalu fokus untuk memikirkan bagaimana bertahan hidup di dunia yang baru ini. Seperti salah satu sahabat saya berkomentar “Hidup di Jakarta keras bro”

Hal ini menyebabkan alasan kita menikah atau arti pernikahan itu sendiri menjadi semakin pudar, menjadi semakin hambar. Semakin mudahnya orang menikah. Pernikahan dijadikan alasan untuk bertahan hidup, menjadi alasan agar dapat terpenuhinya sandang dan pangan bahkan status. Menjadi trend. Menikah sudah turun derajatnya hanya untuk pacaran dengan alibi legalitas.

Nasihat orang dahulu

Salah satu teman penulis pernah mengajukan pertanyaan yang membuat penulis sempat tertegun dan memikirkan jawabannya. “Apa yang menyebabkan dirimu mengambil keputusan untuk menikah awalnya? Apa dasarnya?”.  Hal ini membuat penulis mengingat nasihat orang dahulu yang mengatakan Bibit, Bebet dan Bobot-nya perlu dipikirkan secara matang.

Bibit mengarah kepada latar belakang kehidupan, bebet mengarah kepada kesiapan finansial pasangan kita dan bobot lebih ke akhlak, pendidikan dan agamanya. Hal ini biasanya dianut oleh orang keturunan Jawa (penulis bukan orang Jawa), namun dari pengalaman penulis sendiri, ke-tiga hal tersebut sangat logis adanya. Bahkan penulis ingin memperluas cangkupannya, ketiga syarat diatas tidak hanya wajib untuk pasangan kita, melainkan untuk keluarganya juga.

Kita coba kembali berfikir sejenak, kita dilahirkan di muka bumi ini tidak sendirian, banyak dan bahkan diciptakan untuk berpasang-pasangan. Yang artinya kita pasti berinteraksi satu sama lain, pasti berkomunikasi, bercanda, saling bergunjing, saling memuji dan lain sebagainya. Karena manusia adalah makhluk sosial. Sehingga, jika kita menikahi pasangan kita, secara tidak langsung kita juga menikahi keluarganya. Oleh sebab itu, dengan keterangan diatas, menjadi wajib hukumnya ke-tiga syarat diatas juga diterapkan kepada keluarga pasangan kita.

Kita harus melihat apakah ada kesamaan pola hidup, cara keluarga pasangan kita berinteraksi dengan lingkungan, keluarga, tetangga dan sekitarnya. Dilihat juga kondisi finansial keluarga pasangan kita, karena tidak dapat dipungkiri, pada akhirnya, semua kembali ke masalah uang. Apakah masalah uang ini nantinya akan menjadi hambatan pada saat menjelang pernikahan ataupun sesudahnya? Kita lihat juga tingkat pendidikan, akhlak dan agamanya. Apakah ada kesamaan? Karena hal satu ini (bobot) sangat penting adanya untuk dapat menyelesaikan segala masalah prihal finansial (bebet) dan bahkan masalah-masalah keluarga lainnya. Jika bobot-nya tidak sama, maka dapat dipastikan pernikahan tersebut akan gagal.

Penulis berpendapat bahwa dalam pernikahan, tidak perlu semua nilai bobotnya harus sama. Sebagai contoh, bisa saja bobot nilai pendidikan suami lebih tinggi dari istri, namun bobot nilai agama istri lebih tinggi dari suami atau sebaliknya. Karena hal seperti ini akan menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan. Suami dan istri bisa saling tukar menukar nilai masing-masing, dapat saling berbagi pendapat, dapat saling berdiskusi dan berdebat. Yang pada akhirnya dapat saling menghormati. Bukankah ini yang kita cari dari pernikahan? Kenapa kita menikahi pasangan kita? Kenapa kita ingin hidup selamanya dengan pasangan kita?

Namun jika semuanya (pendidikan, akhlak dan agama) tidak dimiliki oleh satu pihak, sehingga hanya berat ke satu pihak lainnya, akan berat sekali jalannya pernikahan tersebut. Satu pihak akan merasa dirinya selalu rendah dan satu pihak akan selalu merasa dirinya tinggi. Sehingga pada akhirnya tidak adanya perasaan saling hormat dan menghormati antar keduanya. Akan hambar.

Kesamaan Visi

Salah satu dan mungkin menjadi dasar yang sangat penting sebelum kita menikah adalah, perlu adanya kesamaan visi antar pasangan.

Kesamaan visi ini menjadi penting adanya dalam pernikahan dikarenakan jika visi suami adalah membangun rumah tangga dengan cara bekerja dengan giat dan jujur, sedangkan visi istri adalah ingin menghidupi keluarganya, bersosialita dan mempercantik diri, hal ini tidak akan dapat berjalan dengan harmonis. Dikarenakan visi pernikahan antar keduanya sudah berbeda, bagaikan sebuah kapal dalam lautan yang luas namun memiliki dua tujuan yang berbeda.

Mari kita akui bersama dan kembali ke awal paragraf. Di jaman sekarang, dikarenakan wanita dan pria sudah sama, nilai-nilai istri harus mematuhi perintah suami sudah tidak dapat dijunjung tinggi lagi. Sudah sangat jarang terjadi. Bahkan penulis temui, dikalangan wanita-wanita yang mendalami agama ataupun wanita dalam keturunan keluarga nabi (habib) sekalipun pemahaman ini sudah mulai pudar. Hal ini menjadi salah satu penyebab kenapa perceraian mudah terjadi.

Berbeda dengan jaman ayah / ibu kita dahulu, dimana dijaman itu wanita belum setara dengan pria, yang menyebabkan istri mematuhi segala perintah suami. Istri di jaman itu belum ada pilihan lain, belum bekerja, belum ada pendapatan, belum berfikir jauh kedepan. Visi mereka di jaman itu hanyalah membangun rumah tangga dan mengurus anak.

Oleh sebab itu, kesamaan visi ini harus dibahas dari awal, bahkan sudah harus mulai dibahas di tingkat pacaran. Pasangan harus sepakat terlebih dahulu mengenai visi mereka kedepan dalam berumah tangga. Untuk mencapai kesamaan visi ini tentunya butuh waktu, butuh proses, oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan menikah. Ambillah waktu yang cukup untuk saling berdiskusi prihal visi ini dan mencari kesamaannya bersama.

Kesimpulan

Saran dari penulis cukup singkat, sebelum menikah dan mencegah terjadinya perceraian, kenali pasangan dan keluarga pasangan kita (Bibit, Bebet dan Bobot), Samakan visi dalam pernikahan kedepan, mau seperti apa rumah tangga yang ingin dijalani. Jangan terburu-buru dalam menikah, luangkan waktu yang cukup untuk saling mengenal satu sama lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s